Sarah Keihl dan Obsesi Laki-laki Terhadap Keperawanan Perempuan - Jurnal Darul Azis

Sarah Keihl dan Obsesi Laki-laki Terhadap Keperawanan Perempuan

Sarah Keihl dan Obsesi Laki-laki Terhadap Keperawanan Perempuan

Ilustrasi/Shutterstock/kubais
Sarah Keihl, di akun instagramnya tempo hari yll, mengumumkan akan melelang keperawanannya dan hasilnya akan didonasikan untuk penanggulangan Covid-19 di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, dia open bid from 2 billion rupiah. Terlepas dari motif Sarah tentang rencananya (yang urung) tersebut, saya pikir ini menarik untuk dipikirkan-ulang. Utamanya ihwal perempuan, keperawanan, dan relasinya dengan laki-laki. Saya sebetulnya kemarin berharap dia akan benar-benar melaksanakan rencananya. Tapi ternyata kegaduhan society kita berhasil membuat dia membatalkan rencana tsb. Padahal kalau rencana kemarin terwujud, Sarah akan berhasil menunjukkan pada kita tentang sesuatu hal yang penting. Apa itu? Mari kita bahas. 

Pertama, soal obsesi laki-laki terhadap keperawanan. Mengapa Sarah berniat melelang keperawanannya? Karena ia tahu, ada pasarnya. Mafhumlah kita, laki-laki di negara ini begitu terobsesi dengan keperawanan. Bagi kebanyakan laki-laki, keperawanan ibarat berlian. Harganya mahal. Menantang untuk terus diburu. Dalam pasar seks saja, PSK perawan kelas menengah bisa dihargai 10-20 juta. PSK kelas atas, tentu lebih mahal lagi. Harga tersebut akan ditentukan oleh "kecantikan" dan latar belakang si perempuan. Dan siapa yang akan menilai derajat kecantikan itu? Tak lain ya kaum laki-laki juga, dengan campur tangan pelaku pasar (germo). 

Terus terang saja, saya nyaris tidak mengerti alasan logis dari obsesi laki-laki terhadap keperawanan. Padahal, konon berhubungan badan dengan perempuan perawan itu tidak enak; harus melihat darah dan perempuan yang kesakitan. Apa yang nikmat dari hubungan seksual yang seperti itu? Kecuali laki-laki tersebut memang memiliki kelainan seksual sadisme.

Hanya ada satu hal yang bisa saya pahami dari itu semua. Laki-laki, akan merasa gagah, bangga, dan berharga betul jika berhasil menjadi yang pertama dari seluruh kawanannya. Bahkan ini juga bisa dirasakan pada laki-laki yang sudah bersetubuh dengan banyak perempuan. 

Kemudian yang kedua, soal cara Sarah menempatkan diri di dalam society kita. Taruhlah, harga tersebut dibuka karena uangnya akan didonasikan untuk misi kemanusiaan, sehingga ada dua motif di sana, dan kalau dibagi dua keperawanan Sarah dibuka dari harga 1 M. Melalui rencana-aksinya itu, Sarah sebagai perempuan ternyata justru  telah mengafirmasi pandangan bahwa yang berharga dari perempuan ialah status keperawanannya. 

Sampai di sini, saya jadi berpikir bahwa Sarah tak ubahnya seperti korban konstruksi sosial yang selama ini bersumber dari laki-laki. Bedanya Sarah dan perempuan lain, ia telah mencoba mengkomodifikasikannya, sementara perempuan lain tidak, bahkan malah jadi korban kekerasan. Perempuan lain yang terikat pada dogma agama, akan mempersembahkan pada suaminya. Perempuan yang tidak terikat pada nilai agama dan meyakini tentang konsep otoritas tubuh, akan membuka keperawanannya kapan pun dia mau, dengan cara yang diinginkannya pula. Sementara bagi perempuan yang bernasib buruk, ia tak punya pilihan apa pun, karena keperawanannya telah direnggut secara paksa oleh laki-laki yang telah memerkosanya. 
Please write your comments