Self Centered, Gangguan Jiwa yang Sedang Mengintai Kita - Jurnal Darul Azis

Self Centered, Gangguan Jiwa yang Sedang Mengintai Kita

Self Centered, Gangguan Jiwa yang Sedang Mengintai Kita

Self Centered (Egosentrisme) ilustrasi via  www.sketchoholic.com


Dalam bahasa kita, ini sebangun makna dengan kata 'egosentrisme'. Berbeda dengan egoisme yang 'hanya' membuat pengidapnya berperilaku semata-mata untuk kepentingannya sendiri, egosentrisme dapat membuat seseorang berperilaku lebih dari itu. Egosentrisme berada setingkat di atas egosime. Jadi, para pengidap egosentrisme ini selain egois, ia juga ingin menjadi pusat perhatian atas apa yang telah ia lakukan/katakan. Untuk memperolehnya, ia bahkan tak segan-segan untuk memaksakan kehendak, pendapat, atau pandangannya terhadap orang lain.



Pada era media sosial seperti saat sekarang ini, disadari atau tidak, gangguan jiwa ini tengah mengintai kita—untuk belum dikatakan telah kita idap. Ini lantaran media sosial telah memberikan ruang yang begitu luas kepada penggunanya untuk selalu tampil ke permukaan/depan (show up), setiap saat, melalui tulisan atau gambar yang dibagikan pemilik akun kepada publik dunia maya. Media sosial memungkinkan seseorang tampil dengan berbagai rupa : sebagai orang yang menarik, narsis (percaya diri berlebihan), serba tahu, sombong, inferior, terlalu sibuk, terlalu mencintai diri sendiri ataupun sebagai orang yang teraniaya (lemah).

Jadi perlu saya tegaskan, kata “kita” dalam judul di atas merujuk pada para pengguna media sosial.

Tujuannya tentu adalah untuk menarik perhatian banyak orang agar tertuju padanya. Akan menjadi kepuasan tersendiri baginya apabila perhatian tersebut sudah didapatkan (melalui banyaknya like, share, dan komentar berupa pujian), hingga kemudian membuat yang bersangkutan merasa ketagihan. Dan akan menjadi kekecewaan yang teramat dalam apabila yang ia dapatkan justru pengabaian, tombol unlike, hingga bahkan cemoohan (bully) dari orang-orang yang sebenarnya menjadi sasarannya.



Terkait egosentrisme ini, dari kemarin-kemarin saya telah mencoba menelusuri publikasi hasil penelitian di beberapa situ kampus. Dan yang saya temukan ternyata adalah rata-rata egosentrisme ini diidap oleh individu remaja karena berkaitan dengan proses transisi usia, emosi, dan mental. Orang dewasa sangat jarang yang berperilaku egosentris. Meski dalam wilayah lain perilaku ini juga akan muncul tanpa disadari, seperti misalnya di wilayah dunia maya sebagai dunia lain atau dunia kedua kita dalam kehidupan sehari-hari. Ya, di dunia maya, egosentrisme dapat dengan mudah menjangkiti orang dewasa.

Apa pasal?

Karena walaupun secara usia mereka telah cukup dewasa dan secara mental di dunia nyata ia juga telah cukup matang, namun jika dikaitkan dengan cepatnya laju perkembangan zaman, mereka bisa menjadi tidak sedewasa di dunia nyata. Nari kita bayangkan, er a media sosial baru booming dalam satu dekade belakangan ini. Dengan demikian orang yang saat ini (di dunia nyata) sudah tergolong dewasa pun, di dunia maya mereka masih dapat digolongkan sebagai seorang remaja yang masih berada pada proses pencarian jatidiri, perubahan emosi dan pendewasaan dalam bermedia sosial. 

Jadi, jika di dunia nyata Anda merasa sudah cukup dewasa dan matang, jangan berpikiran di dunia maya otomatis Anda bisa seperti itu. Karena sekali lagi, kita ini baru kemarin sore berkenalan dengan media sosial. Ditambah lagi sekarang aplikasi media sosial sangat beragam dan memungkinkan kita semua untuk menjadi seorang yang egosentris. Dikit-dikit selfie, dikit-dikit pamer, dikit-dikit menasihati, dikit-dikit merasa sok tahu, dikit-dikit mengeluh.


Kepitalisme Global Mempersubur Individualisme dan Egosentrisme

Kalau ditelisik mundur, egosentrisme ini sangat berhubungan dengan era kepitalisme, di mana persaingan menjadi semakin ketat dan hanya pasarlah yang akan menjadi penentu mekanismenya. Nah, dengan adanya persaingan tersebut maka seseorang akan berlomba-lomba untuk tampil ke permukaan agar dapat memenangkan persaingan tersebut, dengan mengusung branding dirinya masing-masing.

Sekarang ini, semua orang (seakan) dituntut untuk berjuang demi kepentingannya sendiri-sendiri (egois). Lalu lambat laun mereka pun akan didorong untuk berperilaku individualis, di mana masing-masing individu harus merasa lebih berharga ketimbang yang lain sehingga wajib diakomodir segala kepentingannya. Jika tidak, maka mereka akan terus didorong untuk menempuh jalan lain, yakni memunculkan diri ke permukaan dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan menggunakan media sosial, agar perilaku individualisnya tersebut dapat terakomodir. Didengar. Diperhatikan. Hingga akhirnya mereka pun menjelma menjadi sosok individu yang egosentris.



Jadi, bisa dikatakan egosentrisme ini merupakan bagian dari dampak buruk sistem kapitalisne global.



Egosentrisme Dalam Kehidupan Sosial

Selain diidap individu, lama kelamaan egosentrisme ternyata juga dapat diidap oleh suatu kelompok sosial (agama, suku, dan bangsa). Terlebih lagu jika dalam kelompok tersebut ada banyak individu-individu dengan sikap egosentris yang tinggi. Makin jadilah komunitas tersebut, sebagai kelompok yang egosentris. Fanatik, kolot, dan susah untuk diajak kompromi.


Semua pandangan pun kemudian hanya didasarkan pada kelompoknya. Begitu pun tindakannya. Tak diindahkannya hal-hal di luar kelompoknya, karena mereka telah merasa paling benar, kuat, ataupun paling berhak dibanding kelompok lainnya. Inilah yang nantinya akan memicu konflik antarkelompok baik atas nama organisasi, suku, agama, ras, maupun bangsa.

Agaknya egosentrisme kelompok ini sampai sekarang masih terlupakan. Padahal dia ada dan sangat nyata. Begitu pun contoh-contoh akibatnya. Terpampang jelas di depan mata.



Penutup

Lalu bagaimana dong kalau begitu? Apa yang harus kita lakukan?

Bagi saya pribadi, egosentrisme ini merupakan bagian dari proses menuju kedewasaan diri, baik di dunia maya maupun nyata. Saya meyakini bahwa seiring berjalannya waktu, egosentrisne ini akan terkikis secara perlahan dari diri kita.


Tapi itu membutuhkan waktu relatif lama, sementara kita tidak tahu ada berapa banyak kerugian yang harus ditanggung orang lain karena sikap egosentris tersebut. Oleh sebab itu, egosentrisme tetap harus kita tanggulangi. Kita kikis agar kerugian orang lain karena diri kita menjadi semakin berkurang.

Bermanfaat aja belum, masa' malah mau merugikan terus? Iya, 'kan?


Nah, untuk menanggulanginya, pertama-tama yang bersangkutan harus menyadari terlebih dahulu keberadaan gangguan jiwa bernama egosentrisme ini di dalam masing-masing individu. Caranya adalah dengan melihat ke dalam diri masing-masing. Introspeksi. Ngaca. 

Itulah mengapa saya menuliskan tentang egosentrisme itu di sini. Ialah untuk mengingatkan satu sama lain.

Selanjutnya, setelah diketahui ada tidaknya gangguan jiwa bernama egosentrisne itu dalam diri Anda, tugas Anda adalah memutuskan. Itu penyakit mau dihilangkan atau tidak. Karena pada akhirnya keputusan untuk mengikis gangguan jiwa tersebut sepenuhnya ada di tangan Anda. Dan memang itu modal utamanya.



Jika Anda hendak mengikisnya, cobalah untuk lebih sering melihat orang lain. Berkomunikasi dengannya, secara langsung dan cobalah untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Maka Anda akan segera menyadari bahwa ternyata di dunia ini tidak hanya melulu tentang Anda; kebahagiaan Anda, kesedihan Anda, kesibukan Anda, beban hidup Anda, karya Anda, keyakinan Anda, kesuksesan Anda, keterpurukan Anda, kebutuhan Anda, pengetahuan Anda, capaian Anda, foto-foto selfie Anda, dan keberadaan Anda.


Jauh lebih daripada itu, ternyata dunia ini adalah tentang Anda dan orang-orang di sekeliling Anda, yang dalam satu titik tertentu bisa lebih jauh berada di atas, di bawah atau sama dengan Anda. 


Sederhana bukan?

Iya memang.  Tapi sumpah, itu tidak mudah untuk diterapkan. Setidaknya, tidak semudah menekan tombol like and share. Butuh waktu dan kesungguhan untuk melakukannya.


Wal akhir, selamat mencoba.



Disclaimer : Tulisan ini tidak ilmiah, jadi lebih baik tidak digunakan sebagai referensi kuliah. Selain itu, saya juga masih curiga jangan-jangan tulisan ini pun merupakan manifestasi sikap egosentris yang ada pada diri saya. Lah itu buktinya, tidak ada pendapat orang lain yang saya kutip dalam tulisan ini. Saya hanya mengajukan pendapat pribadi, atas pandangan dan pengamatan pribadi, dan untuk kepentingan saya pribadi (menarik perhatian Anda?). Duh!

Please write your comments