10 Alasan Mengapa Merayakan Malam Tahun Baru Itu Haram - Jurnal Darul Azis

10 Alasan Mengapa Merayakan Malam Tahun Baru Itu Haram

10 Alasan Mengapa Merayakan Malam Tahun Baru Itu Haram

Ilustrasi via planwallpaper.com


Malam pergantian tahun baru, bagi sebagian orang merupakan momen istimewa karena hanya bisa dinikmati satu tahun sekali. Pada momen tersebut, banyak di antara mereka yang kemudian merayakannya bersama orang-orang tercinta di luar rumah seperti di alun-alun atau pusat kota. Ada juga yang kemudian memilih merayakannya di pantai, gunung, atau tempat terbuka lainnya demi mendapatkan momen berkesan di awal tahun. 

Namun tahukah Anda, di balik semua itu ada sebagian orang yang justru 'mengharamkan' perayaan malam tahun baru di luar rumah karena alasan-alasan tertentu? Ya... mereka punya alasan-alasan kuat mengapa sampai 'mengharamkannya'. Berikut inilah alasan-alasannya.

1. Alasan Kemacetan

Karena alasan kemacetan, mereka akhirnya mengharamkan diri untuk ikut merayakan malam pergantian tahun baru. Biasanya orang-orang seperti ini kesehariannya memang selalu berjibaku dengan kemacetan, sehingga semakin malas keluar rumah pada malam tahun baru. 

Wong hidupnya saja sudah bergelimang kemacetan kok, eh ini mau ditambahin yang lebih parah lagi.

2. Alasan Asmara dan Status Hubungan

Merayakan malam tahun baru di luar bagi mereka sungguh bisa bikin dada sesak dan emosi memuncak. Selain karena polusi dan kemacetan, malam tahun baru juga memungkinkan pertemuan antara seseorang dengan mantan pacarnya yang sudah punya pacar baru melebihi pacar lama atau mantan gebetannya yang sudah punya gebetan baru jauh melebihi gebetan lama. Dan bagi yang belum punya pasangan, ketahuilah, tetap tinggal di rumah adalah setepat-tepat pilihan. You pasti tahulah alasannya. 

Alasan ini kerap dilontarkan oleh mereka yang gampang baper.


3. Alasan Kesehatan  dan Menolak Keklasikan

Cahaya kembang api ya cuma gitu-gitu aja. Bunyinya juga cenderung memekakkan telinga. 

Apa? Terompet? Yakinlah...mereka gak akan kepikiran dengan yang bunyinya telolet. Mereka sudah lupak!  Maka dapat dipastikan, bunyi terompetnya pun ya cuma gitu-gitu aja. 

Alasan ini kerap dilontarkan oleh mereka yang sangat peduli dengan kesehatan telinga, gampang bosan, dan penggemar Telolet.

4. Alasan Filosofis

Wahai orang yang hidup di tengah-tengah keramaian! Tidakkah kamu bosan dengan keramaian-keramaian itu?

Bukankah seharusnya malam tahun baru kaugunakan untuk merenung dan mengoreksi diri?

Alasan ini kerap dilontarkan oleh mereka yang hidupnya dipenuhi dengan nilai-nilai filosofis.

5.  Alasan Empatik-Sosialistis

Pada malam tahun baru, mereka memilih tetap tinggal di rumah karena dengan begitu berarti mereka sedang ingin memberi kesempatan orang lain untuk menikmati kota tempatnya tinggal. 

Alasan ini kerap dilontarkan oleh mereka yang berjiwa sosial tinggi

6. Alasan Sufistik dan Kedaulatan Diri

Karena alasan ini mereka merayakan malam tahun baru dengan tetap tinggal di rumah. Karena mereka ingin menepi dari hingar bingar dunia dan berdaulat atas dirinya sendiri karena tak turut merayakan apa yang oleh kebanyakan orang rayakan.

Alasan ini kerap dilontarkan oleh para pelaku hidup sufistik.

7.  Alasan Kelestarian Lingkungan

Alasan ini juga mendorong mereka tetap tinggal di rumah saja. Karena mereka tak ingin turut berkontribusi pada peningkatan volume sampah awal tahun, polusi udara jalanan, dan konsumsi energi tak terbarukan. 

Alasan ini sering diucapkan oleh mereka para MAPALA (Manusia Pecinta Lingkungan)

8.  Alasan Silampukauistis

Mereka tak menganggap momen malam pergantian tahun itu terlalu istimewa, walaupun hanya terjadi setahun sekali. Karena mereka selalu ingat pesan dari Silampukau dalam lagu Balada Harian, 'waktu sekadar hitungan yang melingkar kekal di kehampaan'.

Tentu saja, alasan ini hanya dilontarkan oleh penggemar Silampukau.

9. Alasan Ekonomi 

Alasan ekonomi dan proteksi diri menjadikan mereka tetap tinggal di rumah pada malam tahun baru. Karena dengan begitu mereka tak perlu mengeluarkan banyak biaya atau berhadapan dengan banyak risiko. 

Anda tahu siapa yang kerap melontarkan alasan ini? 

Yap...betul. Mereka para penganut hemat pangkal kaya dan belum ikut BPJS.

10. Alasan Gaib

Para penganut alasan ini sering berpikir begini:

"Kembang api-kembang api itu ditembakkan ke langit dengan begitu pongahnya dalam waktu beriringan. 

Tidakkah kamu takut kalau penduduk langit marah karena merasa terganggu? 

Bagaimana kalau dia membalasnya dengan sebuah tiupan terompet?"

Ya...karena mereka meyakini bahwa kiamat sudah dekat. Mari bertobat. 

Please write your comments