Resolusi Tahun Baru, Tradisi Dunia Barat-Sekuler yang Mendunia dan Sering Gagal Diwujudkan - Jurnal Darul Azis

Resolusi Tahun Baru, Tradisi Dunia Barat-Sekuler yang Mendunia dan Sering Gagal Diwujudkan

Resolusi Tahun Baru, Tradisi Dunia Barat-Sekuler yang Mendunia dan Sering Gagal Diwujudkan

Contoh Gambar Resolusi Tahun Baru
Contoh Resolusi Tahun Baru


Tanpa terasa kita sudah berada di pengujung tahun dan akan segera berganti dengan tahun baru. Pesta penyambutan malam pergantian tahun juga telah dipersiapkan, baik oleh muda-mudi, instansi, perusahaan, dan oleh semua umat manusia di seantero dunia.

Angka penjualan terompet, kembang api, jagung, ikan, ayam, kecap pun juga mulai menanjak. Begitu juga dengan tingkat bookingan kamar di penginapan dan hotel-hotel. Banyak orang yang tak ingin  melewatkan malam pergantian tahun baru yang hanya bisa dinikmati setahun sekali itu, bersama orang-orang terdekat, tercinta, terkenang, dan tersayang. Sebab konon, tahun baru dipercaya dapat menjadi pelecut bagi seseorang untuk menjadi lebih baik lagi, lagi, dan lagi.


Mengawali tahun baru, biasanya banyak di antara kita yang kemudian menetapkan resolusi tahun baru. Resolusi tahun baru adalah sebuah janji untuk diri sendiri agar mulai melakukan sesuatu hal baik atau berhenti melakukan sesuatu hal buruk yang akan dimulai sejak tahun baru (tanggal 1 Januari)[1].


Resolusi tahun baru itu sendiri sebenarnya merupakan tradisi sekuler yang umumnya berlaku di dunia Barat. Asal mula tradisi ini dipelopori oleh penduduk Babilona Kuno yang berjanji kepada para dewa yang mereka sembah setiap awal tahun bahwa mereka akan mengembalikan semua benda-benda yang telah mereka pinjam dan membayar utang mereka. 


Bangsa Romawi memulai awal tahun dengan berjanji kepada dewa Janus, yang namanya diabadikan menjadi nama bulan Januari. Pada Abad Pertengahan, para kesatria mengucapkan "sumpah merak" pada akhir musim Natal setiap tahunnya untuk menegaskan kembali komitmen mereka sebagai kesatria. 



Tradisi ini ternyata selaras dengan pandangan agama umat Yahudi dan Katolik.  Saat tahun baru, biasanya umat Yahudi merenungkan kesalahan yang telah mereka lakukan sepanjang tahun dan meminta pengampunan. 

Begitu juga dengan umat Katolik, mereka melakukan hal serupa pada masa puasa Pra-Paskah, meskipun motifnya lebih ke pengorbanan daripada tanggung jawab. Tradisi resolusi Tahun Baru ini sendiri sebenarnya berawal dari praktik puasa pra-Paskah yang dilakukan oleh umat Katolik [2].

Tradisi yang mendunia dan banyak gagal diwujudkan 

Sekarang tradisi resolusi tahun baru juga banyak dilakukan oleh orang-orang di seluruh dunia, termasuk orang Indonesia. Momen awal tahun kerap dijadikan sebagai momen menetapkan hal-hal yang ingin dicapai selama setahun ke depan. 

Namun demikian sebenarnya hal ini berbanding terbalik dengan fakta penelitian yang pernah dilakukan Universitas Scranton. Berdasarkan hasil penelitian tersebut sebagaimaa dilansir BBC, didapati fakta banyaknya orang yang gagal mencapai resolusi tahun baru sebagaimana telah ditetapkan. Di antara mereka, hanya 8 % yang berhasil[3].


Salah satu penyebab kegagalannya adalah kita sering tidak realistis dalam menetapkan resolusi tahun baru. Sehingga kemudian terasa sulit untuk mencapainya. Banyak di antara kita yang terjebak  dan terfokus dengan goal-goal tahun baru, tetapi lupa memperbaiki kebiasaan diri. Sebagai contoh, kita tidak akan bisa mencapai goal berat badan akan turun 10 kg tanpa mengubah kebiasaan hidup yang membuat berat badan kita naik 20 kg. 

"Goal dapat membuat kita stres berat. Lebih fokuslah pada nilai (proses untuk mencapainya, yang di dalamnya akan memuat kebiasaan yang harus dilakukan, pen) ketimbang goal-nya." kata Dr Lara Fielding, seorang Supervisor Psikolog di Universitas California[4].


Penyebab lainnya adalah karena resolusi tahun baru kerap dipublikasikan atau diceritakan kepada orang lain. Mengatakan goal-goal dan ambisi kita kepada orang lain sering dianggap akan sangat bermanfaat karena dengan begitu kita akan mendapat bantuan, pujian, ataupun penghargaan. 

Asumsi itulah yang sebenarnya menghambat proses pencapaian kita. Kalaupun pujian itu kita dapatkan misalnya, hal itu hanya akan membuat kita terlena dengan tujuan sesungguhnya. 


Beberapa hal di atas seharusnya sudah cukup menjadi pertimbangan bagi Anda yang ingin menetapkan resolusi tahun baru.  Namun jika tetap ingin menetapkan resolusi tahun baru, sebaiknya tetapkanlah resolusi-resolusi sederhana dan mudah dilakukan. 

Mulailah dari hal-hal terkecil dan terdekat Anda. Agar lebih mudah diwujudkan. Dan yang lebih penting sebenarnya adalah mulai membiasakan diri untuk berdisiplin. Karena kata guru saya dulu, Pak Rifai, kunci sukses untuk mencapai apapun adalah disiplin. Mungkin itu juga berlaku pada pencapaian goal-goal tahun baru Anda. 

Selamat menyambut tahun baru. Semoga Anda bahagia selalu.  


Please write your comments