Cerita Pendek yang Dipanjangkan - Jurnal Darul Azis

Cerita Pendek yang Dipanjangkan

Cerita Pendek yang Dipanjangkan

Aku, Kau, Rasa Bosan, dan Masa Lalu
 
Oleh : M Aziz Darmakelana

Pada saatnya, rasa bosan akan menghampiri setiap diri manusia. Bahkan pada hal-hal yang dulu sangat diimpikan ataupun yang saat ini telah berhasil digapai. Apalagi kalau hal-hal menyenangkan yang sebenarnya tak ingin dimiliki (atau dicapai) justru malah datang menghampiri beramai-ramai. Saat rasa bosan semakin menumpuk, manusia akan mencoba mencari pelampiasan. Maka mendapatkan hal baru adalah sebuah keharusan. Sebab jika tidak, akhir hidup manusia akan sangat memalukan. Betapa tidak menjengkelkan ketika kau dengar berita orang mati kebosanan. Bukan mati penasaran, mati kecelakaan, mati kepagian atau mati-mati jenis lainnya. Kebosanan, bagi sebagian besar orang adalah aib. Sebab itu menunjukkan betapa ia sangat bodoh sampai tidak bisa mencari pelampiasan. Hingga  kemudian berpikir bahwa kematian adalah satu-satunya jalan untuk mengakhiri kebosanannya itu.

Kalimat itu masih bercokol di benak Susan saat dua hari lalu ia mengeluhkan masalah rumah tangganya pada Yuna, sahabatnya. Ia mengeluhkan suaminya yang sering pulang larut malam. Setelah awalnya dibiarkan sekali dua kali karena urusan pekerjaan katanya, kemudian pulang pagi, dan akhirnya semakin jarang pulang ke rumah. Awalnya tiga hari sekali, lanjut seminggu sekali, kemudian sepuluh hari sekali, sebulan sekali, tri wulanan, sampai saat ini, sudah lima bulan suaminya tidak pernah pulang ke rumah. Berbagai macam pikiran campur aduk di otaknya. Saling membantah, menyetujui, bertanya, memastikan, menolak, dan akhirnya gaduh sebagaimana persidangan anggota dewan karena kepentingannya tak mendapatkan jawaban.
“Biarkanlah suamimu berkelana untuk menghilangkan rasa bosan itu. Kalau ia sudah lelah mencari pelampiasan, nanti dia akan kembali ke pelukanmu lagi. Hanya rasa lelah yang bisa membunuh rasa bosan. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah bersiap menjadi rumah yang nyaman baginya untuk beristirahat,” celoteh Yuna sembari mengepulkan asap rokok. Disusul setengah gelas bir. Meski diucapkan dalam keadaan mabuk berat, Susan dapat menerima celotehan itu sebagai sebuah kebenaran.
Namun sudah hampir enam bulan ini, suaminya tak lagi mengirim kabar padanya. Minimal sebuah pesan singkat lah kalau memang tak akan pulang untuk beberapa waktu tertentu sebagaimana bulan-bulan lalu. Apa bahkan suaminya telah bosan mengirim pesan basa-basi itu? Pesan unggah-ungguhseorang suami agar menjadi obat penenang bagi istri di rumah. Kalau benar demikian, apakah kelak ia juga akan didatangi rasa bosan? Rasa bosan menunggu misalnya. Menuntutnya untuk keluar mencari pelampiasan hingga akhirnya mereka pulang ke rumah dengan kondisi tubuh kurus kering, kulit keriput, gigi ompong, rambut penuh uban, pandangan mata tak lagi tajam, nafsu bercinta timbul tenggelam karena terlalu kelelahan mencari pelampiasan.  Dan mereka akan bertemu di halaman rumahnya sendiri dengan rasa haru biru. Seperti pengantin baru. Sebab bukankah hanya rasa lelah yang mampu mengalahkan rasa bosan?

*****
    Pada saatnya rasa rindu pada masa lalu  akan menghampiri setiap diri manusia. Bahkan pada hal-hal yang dulu sangat ia benci dan tak diinginkan terjadi lagi pada dirinya. Apalagi hal-hal tersebut menjadi sangat berkesan jika diingat-ingat kembali.Karena menjadi penyebab kuat atau alasan keadaanmu saat ini. Saat rasa rindu itu muncul, pasti manusia akan berusaha mati-matian untuk mengobatinya. Maka, mendapatkan kembali hal-hal lama adalah sebuah keharusan. Sebab jika tidak, akhir hidup manusia akan sangat memalukan. Betapa tidak menjengkelkan ketika kau dengar berita orang mati karena menahan rindu. Bukan mati dalam bahagia perjumpaan dengan yang dirindukan, padahal itulah kematian paling membahagiakan di dunia ini.
Barangkali, –bagi sebagian orang- rasa rindu terhadap masa lalu adalah sebuah kebodohan, sebab itu menjadi pertanda ketidakmampuan untuk bertolak menuju masa depan. Namun bagi sebagian besar orang lainnya, justru menjadi suatu hal yang sangat membanggakan. Sebab ia telah mampu menyimpan rapi ingatan-ingatannya di belantara waktu yang luas itu, dan membacanya kembali dengan seksama. Betapa ia sangat beruntung mampu mengingat banyak hal yang belum tentu orang lain mau dan bisa mengingatnya.  Betapa ia digadang-gadang sebagai manusia yang mulia sebab tetap bersedia mengingat masa lalunya, sepahit apapun itu.
Kata-kata itu masih melekat erat di benak Joe saat setahun lalu ia mengeluhkan masalah rumah tangganya pada Woles, sahabatnya. Ia mengeluhkan kehidupan rumah tangganya yang sangat membosankan. Istrinya yang membosankan ketika bercinta di ranjang. Membosankan ketika menghidangkan masakan. Membosankan kala menyambutnya sepulang kerja. Membosankan tatkala menghiburnya. Membosankan cara istrinya menghabiskan uang. Awalnya rasa bosan itu tumbuh hanya sebesar biji zarrah, lama kelamaan berubah menjadi sebesar biji jambu, lalu sebesar biji salak, kemudian sebesar buah semangka, dan saat ini telah menjelma bukit kebosanan. Berbagai macam pikiran campur aduk di otaknya. Saling membantah, menyetujui, bertanya, memastikan, menolak, dan akhirnya gaduh sebagaimana persidangan anggota dewan karena kepentingannya tak mendapatkan jawaban.

     “Luangkanlah sedikit waktumu untuk kembali ke masa-masa yang telah membuatmu sampai pada posisi sekarang. Kalau kau berhasil sampai di sana, nanti dengan sendirinya kau akan kembali ke kehidupanmu yang penuh warna. Sebab hanya bersua dengan masa lalu, rasa rindu itu akan terobati. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah bersiap menjadi kau yang dulu, kau yang tak pernah merasakan kebosanan, kau yang selalu dikejar oleh teka-teki kehidupan, kau yang bosan merasakan bosan,” celoteh Woles sembari mengepulkan asap rokok. Disusul dengan segelas bir. Meski diucapkan dalam keadaan mabuk berat, Joe dapat menerima celotehan itu sebagai sebuah kebenaran. Sebab ia pun juga pernah merasakan.


Please write your comments