Yang Bertaubat Seusai Salat - Jurnal Darul Azis

Yang Bertaubat Seusai Salat

Yang Bertaubat Seusai Salat

Pemuda di Masjid

Setelah hening beberapa saat, sang imam mengucapkan salam. Lalu menoleh ke kanan, kemudian ke kiri. Jamaah di belakangnya mengikuti. Salat zuhur siang itu telah usai. 

Keheningan memudar oleh gerak tubuh jamaah. Ada yang mengganti posisi duduk menjadi bersila, ada yang beringsut ke belakang, ada yang mengambil sorban dan menyampirkannya di pundak, dan ada yang mengambil posisi duduk bertumpu kaki. Sang imam duduk bersila menghadap ke arah jamaahnya. 

Suasana kembali hening. Untuk beberapa saat, setiap jamaah diam dalam rundukannya. Bibir mereka komat-kamit. Jari mereka bergerak menghitung lafalan. Seorang anak laki-laki kecil berjalan mengitari jamaah, mengajak bersalaman.

Salat usai. Sejenak ia merasa semakin girang. Tapi hati kecilnya merasa sangat berdosa. Salatnya tadi tidak khusyuk, masih bercampur urusan dunia. Ia merasa telah menduakan-Nya. Musyrik. Itu sebuah dosa yang sangat besar.

Maka kemudian ia menahan diri untuk segera beranjak pulang. Ia merasa sangat menyesal dan harus membayar dosa itu sesegera mungkin. Diucapkannyalah istighfar pendek berkali-kali. Jamaah lain sudah bertasbih, bertahmid, dan bertakbir, ia masih larut dalam pelafalan istighfar.

Tapi itu belum bisa membuatnya puas dan yakin. Maka kemudian ia membaca sayyidil istighfar yang dulu pernah ia hapal ketika masih kecil dan mengaji di langgar. Ia membacanya hingga berulang kali. Sengaja ia tidak menghitungnya sama sekali. Ukurannya ialah hati, kalau sudah puas, barulah berhenti.

Jamaah sudah banyak yang beringsut pergi meninggalkan masjid. Hanya ada empat orang yang kemudian salat sunnah, sang Imam, ketua takmir, ketua RT, dan muazin.  Sementara ia masih terus beristighfar. Ia ingin menang melawan dirinya sendiri. 

Membaca istighfar telah usai. Ia kemudian melanjutkan bacaan zikir sebagaimana seharusnya. Usai berzikir dan berdoa, kelak ia berencana akan salat sunnah, dengan lebih khusyuk. 

"Semoga Allah mengampuni kekhilafanku" ia berharap dengan penuh kesungguhan hati. Masjid sudah sepi. Hanya tinggal ia seorang diri, bersama dzat yang sedang ia harap pengampunannya.

(Jogja, 2018)

*Cerita di atas adalah lanjutan dari kisah berjudul "Yang Hadir di Tengah Salat".

Please write your comments