Pelajaran Kedelapan di Hari Ketiga di Beijing - Jurnal Darul Azis

Pelajaran Kedelapan di Hari Ketiga di Beijing

Pelajaran Kedelapan di Hari Ketiga di Beijing

Pagi itu tidak seperti pagi sebelumnya yang penuh keterlambatan. Kami hari itu diwanti-wanti agar tidak terlambat karena akan mengunjungi Kantor Kedutaan Indonesia di Beijing. Di kantor kedutaan, kami ditemui langsung oleh Duta Besar RI untuk RRT, Bapak Jauhari Aritmangun yang juga merupakan alumnus Universitas Gadjah Mada. Bapak Jauhari menceritakan banyak hal tentang kondisi terkini negara berpenduduk 1,5 milyar jiwa itu dan juga mengabarkan progres dan cita-cita dari jalinan hubungan antara Indonesia dengan RRT. 

Menurut Bapak Jauhari, kondisi Republik Rakyat Tiongkok saat ini merupakan hasil dari proses pembangunan yang telah dilakukan sejak dulu. 

“Sejak RRT mulai membuka diri terhadap pergaulan dunia 40 tahun lalu, 20 tahun digunakan untuk membangun manusia, 20 tahunnya lagi digunakan untuk membangun infrastuktur dan teknologi.”

Saat ini, Tiongkok menjadi negara kekuatan ekonomi kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Teknologi di Tiongkok berkembang pesat dengan Xinghua University sebagai laboratoriumnya. Kemajuan teknologi Tiongkok juga terlihat dari semakin luasnya ekspansi pasar Alibaba sebagai ikon bisnis dagang secara elektronik RRT.  

Pada konteks hubungan diplomatik, Indonesia dan RRT menurut Bapak Jauhari, berkomitmen untuk memisahkan isu politik dan ekonomi. 

“Meski secara politik kita banyak tidak sepakat dengan langkah-langkah RRT, seperti persoalan Laut China Selatan misalnya, namun secara ekonomi kita tetap harus melakukan hubungan baik. Tetap harus bekerja sama. Sebab kalau tidak demikian, maka masing-masing negara tidak akan dapat mencapai kepentingan nasionalnya. Ekspor Indonesia saat ini paling banyak ke RRT. ” ujar Bapak Jauhari.

Pada akhir acara pertemuan itu, kami diberi hadiah buku  berjudul “60 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Tiongkok: Kemitraan untuk Perdamaian dan Kesejahteraan”. Ini adalah oleh-oleh paling berharga bagi saya dan dengan demikian tak afdal rasanya jika saya tidak menceritakan hasil pembacaan atas buku tersebut. Buku setebal 435 pagina yang diterbitkan pada 2015 oleh KBRI ini lebih banyak bercerita tentang pemikiran dan pengalaman tokoh-tokoh kerjasama Indonesia-Tiongkok. Beberapa orang-orang RRT, dan beberapa lainnya orang Indonesia sebut saja misalnya Prof. Hasjim Djalal, Letjen Sjafrie Sjamsoeddin,  I Wayan Subagya, dan penulis lain telah mencurahkan pemikirannya dalam buku ini, juga beberapa tokoh intelektual terkemuka RRT, Zheng Bijian. 

Hubungan Indonesia dengan RRT telah berjalan sejak ribuan tahun lalu, saat keduanya masih berbentuk sebagai negeri kerajaan. Hubungan tersebut didukung oleh banyaknya aspek kesamaan baik secara kepentingan, sejarah, agama, demografi, kebudayaan, dan filosofi hidup masing-masing negara. RRT memiliki prinsip kerukunan, keharmonisan, dan kedamaian,  sebagai satu hal yang mendasari kehidupan masyarakat dan bernegara, pun demikian dengan Indonesia yang bahkan telah diwujudkan dalam prinsip diplomasi; yakni bebas aktif sebagaimana dicetuskan Mohammad Hatta serta menjunjung tinggi perdamaian sebagai termuat dalam pembukaan UUD 1945.

Dr. Saptia Nirwandar dalam tulisanya yang berjudul “Menganyam Masa Depan Indonesia dan RRT” mengatakan, dimensi hubungan RI dengan RRT yangkini tengah bersemi pada intinya adalah mengenang masa silam dan menganyam masa depan. 

Masa depan yang seperti apa?

Ulasan Zheng  Bijian dapat memberikan gambarannya kepada kita. Ia mengatakan dalam tulisannya yang berjudul “Tiongkok dan Indonesia Bangkit Bersama Secara Damai” bahwasanya komitmen Tiongkok yang ingin mewujudkan  negara sosialisme yang moder, kuat, makmur, dan harmonis. 

Indonesia menjadi negara mitra strategis Tiongkok dalam berbagai kerjasama, baik pada tingkat bilateral, multilateral, maupun internasional. Tiongkok dan Indonesia sama-sama memiliki kepentingan yang besar, terutama di bidang ekonomi. Tak hanya itu, kedua negara juga memiliki konvergensi kepentingan di bidang iklim, jaringan, angkasa dan keamanan laut serta kestabilan politik dalam negeri dan kawasan. 

Dari pihak Indonesia, Prof. Hasjim Djalal juga memberikan ulasan yang menarik terkait dengan masa depan hubungan diplomatik Indonesia dan RRT, yakni setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam berhubungan dengan RRT. Pertama, tentang pentingnya kerjasama teknis di bidang ilmu pengetahuan. Pada konteks kekinian, tentu dalam hal ini transfer pengetahuan dan teknologi juga penting untuk dilakukan. Kedua, tentang pentingnya pemanfaatan dan pengelolaan konflik teritorial Laut China Selatan di mana Indonesia sebagai negara yang tidak terlibat dalam konflik dapat menjadi interlocutor penyelesaiannya. Ketiga, tentang pentingnya kehati-hatian  agar meningkatnya investasi Tiongkok di Indonesia tidak mengambil alih pekerjaan dari pekerja Indonesia, sehingga memunculkan semangat anti-Tiongkok kembali.

Buku ini mampu memberikan gambaran yang relevan terkait dengan hubungan Indonesia-RRT. Terdapat kalimat menarik yang dilontarkan Prof. Liang Liji dalam tulisannya yang berjudul “Hubungan Kemitraan Strategis Tiongkok-Indonesia Ditinjau Dari Aspek Sejarah dan Kebudayaan” (23-36). Ia mengatakan, pemerintah Tiongkok dengan konsekuen menyatakan bahwa Tiongkok untuk selama-lamanya tidak akan menjadi “kepala”dalam hubungan antarbangsa dan menolak hegemonisme. Benarkah klaim tersebut? Hal inilah yang menarik untuk ditelisik ulang.

Kunjungan selanjutnya adalah ke Xiushui Market. Tempat ini merupakan sentra perbelanjaan di Beijing yang lengkap. Barang-barang di tempat ini relatif murah namun memerlukan kejelian dan kegigihan untuk mendapatkan harga yang murah itu. Nyaris tidak ada kesan yang mendalam dengan tempat ini, selain karena uang sudah menipis, menawar barang merupakan aktivitas yang cukup melelahkan. Maka selanjutnya lebih baik kita segera berbicara tentag kunjungan ke Latex Product saja. Latex Product merupakan perusahaan yang memproduksi alat tidur kesehatan seperti kasur dan bantal. Kunjungan ke tempat ini wajib hukumnya. Di tempat ini, kami nyaris tidak mendapatkan pengetahuan yang terlalu berharga karena konten utama penjelasan yang diberikan oleh perusahaan hanyalah berjualan, bukan edukasi. Produk yang mereka hasilkan pun sebenarnya tidak terlalu kami butuhkan dan harganya sangat tidak masuk akal, membuat tak satu pun di antara kami tidak tertarik untuk membelinya dan ternyata itu mendorong mereka berprilaku agresif  yang tentu saja membuat kami kurang nyaman.

(Pelajaran kedelapan: Sama dengan pelajaran nomor 1 dan 5. Tapi ingat, kenalilah calon pelangganmu dan jangan buat mereka tidak nyaman.)

Aktivitas hari itu diakhiri dengan kunjungan ke sebuah pertunjukan akrobatik yang cukup memukau. Dimainkan oleh anak-anak muda China, pertunjukan tersebut cukup membuat kami terhibur sekaligus takjub. 

Beijing-Indonesia, November 2018
Please write your comments