Pendidikan Wirausaha Usia Dini - Jurnal Darul Azis

Pendidikan Wirausaha Usia Dini

Pendidikan Wirausaha Usia Dini



Dewasa ini berbicara tentang wirausaha memanglah sangat menarik. Berbagai seminar, sarasehan, diskusi publik dan lokakarya digelar untuk menggelorakan semangat wirausaha di berbagai kalangan dan kelas sosial. Produk yang ditawarkan dalam rangka memberikan tanggapan positif terhadap semakin meningkatnya minat berwirausaha ini pun sangat beragam, dari skala terkecil (rumahan, part time,dsb) hingga skala besar (investasi, properti,dsb). Bahkan dalam perkembangannya, semangat kewirausahaan ini kian mudah mendapatkan tempat dan fasilitas untuk membuat, mengembangkan dan memajukan usahanya. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memberikan space lebih luas pada para wirausahawan untuk meningkatkan omset usaha atau dikenal dengan online model bussines/e-commerce.

Semakin tingginya semangat wirausaha ini bukan tanpa sebab, hal tersebut cenderung dilatarbelakangi oleh ketidakpastian laju ekonomi di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang demikian pesat belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan dan permasalahan klasik bangsa ini, yakni kemiskinan dan pengangguran, karena ternyata pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu merupakan gambaran atas semakin meningkatnya konsumsi masyarakat. Seakan tak tahan melihat dan bahkan ikut merasakan betapa sulitnya mencari lapangan pekerjaan, akhirnya mereka berbondong-bondong pada satu model mata pencaharian hidup dengan berwirausaha, karena semakin menggiurkannya omset ataupun penghasilan yang didapat dari berwirausaha. Kesaksian-kesaksian yang digeontorkan oleh para motivator bisnis yang dikemukakan lewat tulisan-tulisan, buku dan seminar itulah yang sekiranya telah membuat masyarakat Indonesia semakin tertarik dengan wirausaha.

Semangat berwirausaha ini tidak hanya menjangkiti para pencari kerja, namun juga menjalar kepada para karyawan pabrik/perusahaan, PNS, Pegawai, Birokrat, bahkan para Artis terkenal sekalipun mulai menggeluti dunia bisnis dengan segala pemberdayaan yang dapat dilakukan. Misalnya seorang Artis dengan memberdayakan ketenarannya, PNS/Birokrat dengan kekuasaannya, dan karyawan perusahaan/pabrik dengan memberdayakan jaringannya. Seiring perkembangannya, hingga tak sedikit kita bisa jumpai seseorang beralih/banting stir dan menggeluti secara total dunia usaha sebagai mata pecaharian utamanya.

Dalam dunia politik pun, wirausahawan semakin diincar untuk dipinang oleh Partai Politik. Biaya politik yang kian mahal itu justru disikapi dengan menggandeng para pengusaha untuk menjadi kader partainya. Meskipun pada akhirnya kita tidak dapat mengesampingkan track record terkait kredibilitas dan kapabilitas dari kader tersebut, namun pada dasarnya saat ini wirausahawan justru semakin mendapatkan posisi yang sangat strategis di berbagai sektor kehidupan.

Berdasarkan survei Bank Dunia pada 2008, jumlah pengusaha di Indonesia hanya 1,5 persen dari total penduduk saat itu. Sementara di negara tetangga seperti Malaysia sudah mencapai 4 persen, Thailand 4,1 persen, dan Singapura 7,2 persen. Secara kuantitas data memang Indonesia jauh lebih rendah jumlah pengusahanya, namun kita tentu tidak lupa dengan era krisis ekonomi tahun 1998, dimana sektor industri kecil informal terbukti berhasil “menolong” nasib perekonomian di negeri ini.


Membangun generasi wirausaha

Dengan melihat fenomena-fenomena yang sudah ada saat ini, tentu sebagai orang tua mempunyai tugas penting dalam kerangka memunculkan generasi-generasi baru dan turut  meramaikan pasar wirausaha negeri ini dimasa depan. Pendidikan wirausaha sejak dini perlu mendapatkan perhatian serius dari para orang tua, karena untuk menjadikan wirausaha sebagai suatu kebudayaan, memerlukan waktu yang relatif panjang dan salah satunya adalah dengan mengenalkan kepada
generasi penerus di usia dini. Saat ini karakter wirausahawan baru muncul atau dirasakan saat anak sudah menginjak usia dewasa atau sudah menghadapi tuntutan kemandirian, misalnya saat seorang anak sudah lulus sekolah atau sedang kuliah di luar kota dan terpisah dengan orangtuanya. Dengan adanya pendidikan wirausaha sejak dini, maka dalam satu generasi yang akan datang akan banyak tumbuh jiwa-jiwa wirausaha di usia yang relatif sangat muda, dan memutuskan untuk berwirausaha bukan lagi menjadi pilihan disaat seseorang berada dalam kondisi lapangan pekerjaan yang minim, namun menjadi wirausaha justru menjadi pilihan sejak awal anak-anak kita, apalagi kalau sampai kita berhasil membawa mereka pada satu cita-cita bahwa kelak jika ia besar hanya ingin menjadi seorang wirausahawan.

Dalam tulisan ini, saya tidak ingin memberikan secara detail kiat khusus yang bisa diaplikasikan para orang tua untuk membangun generasi wirausaha, namun lebih pada penekanan tuntutan pola didik orang tua yang nantinya berbasis kewirausahaan. Seperti contoh kecil misalnya, orang tua tidak lagi memberikan jatah uang jajan secara berkala, namun sekaligus di serahkan dengan jumlah tertentu, sehingga anak akan tertuntut dalam dirinya untuk sepandai mungkin mengelola keuangannya sampai batas waktu yang telah ditentukan. Disamping hal yang bersifat teknis, sebagai orang tua juga bisa mengoptimalkan sejak dini hobi dan bakat anak sebagai akses utama mendidik jiwa wirausaha ini. Sebagai contoh, seorang anak memiliki kesenangan/hobi membaca komik, maka dengan demikian dapat diarahkan atau difasilitasi oleh para orang tua dengan mendorong anak untuk menjadi agen komik.

Dengan adanya pembelajaran-pembelajaran tersebut, anak tidak hanya terlatih secara teknis, namun secara mental dan karakter dapat terbentuk seiring dengan masa proses anak dalam menjalankan usahanya. Penentuan arah mental sejak dini ini secara konsep akan lebih terarah dan terukur, tentu dalam proses ini tak bisa terlepas dari peran control orang tua. Jangan sampai dalam menjalani proses pembentukan mental/jiwa wirausaha ini anak justru akan terlena akan tugas utamanya, yakni belajar sebagai akibat dari keberadaannya di dunia baru (wirausaha) ataupun justru jera sebagai akibat gagalnya anak dalam proses  belajar berwirausaha.

       

Please write your comments