Pelajaran Kedua dan Ketiga di Hari Pertama di Beijing - Jurnal Darul Azis

Pelajaran Kedua dan Ketiga di Hari Pertama di Beijing

Pelajaran Kedua dan Ketiga di Hari Pertama di Beijing

Setelah sekitar empat puluh lima menit kami berada di tempat tersebut, kami kemudian melanjutkan perjalanan untuk makan siang di restoral lokal dan setelahnya menuju Tiananment Square. Tiananment Square adalah sejenis lapangan yang sangat luas di pusat Kota Beijing, tepatnya di luar pintu selatan Istana Kuno Dinasti Ming dan Qing. Lapangan ini sangat ramai oleh pengunjung namun mendapatkan pengawasan yang sangat ketat dari pihak keamanan. 

Pengunjung tidak boleh menunjukkan atribut semacam bendera apa pun di tempat ini. Di lapangan ini, menurut keterangan A Li, setiap hari dilakukan upacara penaikan dan penurunan bendera sebagai bentuk penghormatan terhadap negara. Di lapangan ini pula, kami dapat melihat lukisan besar sosok Mao Zedong, pendiri negara Republik Rakyat Tiongkok modern, dan tulisan “Selamat Ulang Tahun Rakyat China”. Di lapangan ini, wibawa negara China benar-benar terasa, oleh siapa pun.

(Pelajaran kedua: Buatlah kesan yang kuat bahwa negaramu layak dihormati dan dijunjung tinggi, bukan hanya oleh warga negaranya namun juga oleh warga negara asing. Bangun wibawa atasnya. Sekuat mungkin.)

Beranjak dari Tiananment Square, kami kemudian diajak berjalan menuju Kota Terlarang (Forbidden City) atau istana kerajaan selama periode Dinasti Ming dan Dinasti Qing. Luas istana ini mencapai 720.000 meter persegi, terdapat 800 bangunan dan 8000 ruang di dalamnya. Berdasarkan keterangan yang diberikan A Li, di istana inilah dulu segala urusan pemerintahan kerajaan diselenggarakan. 

Perilaku raja saat itu sangat foedal dan otoriter. Pada saat diselenggarakan acara atau upacara kerajaan, para penggawa kerajaan diharuskan duduk dalam posisi menyembah dan tidak boleh sedikit pun melihat ke atas (sang raja). Hukuman yang berlaku saat itu juga sangat keji. Rakyat atau punggawa kerajaan yang melanggar aturan bisa langsung mendapatkan hukuman mati. Masih menurut keterangan A Li, setiap bangunan di sini terdapat patung singa yang melambangkan kekuatan sang raja. 

Singa pada saat itu dipandang lebih kuat dan baik ketimbang harimau. Selain itu, Singa juga dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan. Hal menarik lain yang juga diceritakan A Li ialah di setiap sudut atap bangunan, selalu terdapat patung singa dengan jumlah ganjil. Terdapat ketentuan mengenai patung ini, yakni jika bukan bangunan yang didiami oleh raja jumlah patung singa tidak boleh lebih dari 11, karena angka 11 hanya milik sang raja. Kami baru selesai menjelajahi Kota Terlarang saat jarum jam sudah berada di angka 5. Menjelang Magrib, kami pulang dan mampir makan malam di restoran lokal dan setelah itu menuju hotel tempat kami menginap; Four Seassons Hotel.

(Pelajaran ketiga: Kemegahan yang disaksikan hari ini, adalah hasil dari perasan keringat, tetesan darah, dan pengorbanan nyawa para pendahulu. Maka dari itu, ingat dan rawatlah ia. Terus-menerus.) 

Beijing, 31 Oktober 2018
Please write your comments