Tetap Tenang di Tengah Panasnya Pemilu - Jurnal Darul Azis

Tetap Tenang di Tengah Panasnya Pemilu

Tetap Tenang di Tengah Panasnya Pemilu


Helatan Pilpres yang hanya tinggal dalam hitungan hari semakin membawa suasana panas bagi masyarakat Indonesia. Tim sukses, pendukung, dan simpatisan dari masing-masing calon juga semakin giat bekerja memaksimalkan upaya. 

Dapat kita lihat misalnya di media sosial, setiap hari selalu ada saja yang digoreng oleh para buzzer. Kebanyakan isu-isu yang digoreng juga tidak terlalu baik bagi kita, karena tidak jauh dari caci maki, saling hina, dan penuh kebencian. 

Karenanyalah, menjelang pemilu ini kita benar-benar butuh cara agar tidak ikut panas, ikut membenci, mencaci, dan ikut menghina. 

Kali ini saya mencoba memberikan sedikit sudut pandang lain tentang pemilu 2019, khususnya mengenai pemilihan presiden. Semoga ini dapat memberikan sedikit efek tenang bagi kita di detik-detik terakhir menuju hari pemungutan suara. 

***

Kapitalisasi Massa Dalam Demokrasi

Saya meyakini, tim internal Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandi pada dasarnya sudah mengetahui potensi kemenangan dan kekalahan mereka pada Pilpres 2019. Bahkan, mereka sudah menyiapkan langkah antisipasi untuk menyikapi hasil pemilu. Mereka sudah tahu akan kalah atau menang pada pilpres 2019 nanti.
Selama metode yang dipergunakan sudah tepat, hal-hal semacam hasil Pilpres memang dapat diukur, diprediksi, dan diketahui hasilnya oleh manusia, sekalipun pemilu belum dilaksanakan. Dalam hal-hal seperti ini, Tuhan tidak akan banyak campur tangan. Dia cuma menonton dan memberikan keleluasaan kehendak kepada manusia.
"Kamu mau apa? Oh kamu mau begitu. Mau begini juga. Nyoh nyoh nyoh. Sak karepmu kowe ameh ngopo".
Adapun keributan-keributan yang ada sekarang ini, yang kita tahu semakin memanas, baik yang dilakukan oleh pendukung dalam tim atau sekadar relawan atau simpatisan, itu memang sengaja dibiarkan. Dipelihara.
Mengapa demikian?
Agar masing-masing kubu tidak kehilangan basis massanya. Tidak kehilangan pendukungnya. Keributan yang ada selama ini terjadi, sangat besar perannya dalam mengikat hati para pendukung kepada Prabowo dan Jokowi.
Kan tidak asyik tuh jadinya kalau para pendukunh masing-masing calon diberitahu capres-cawares dukungannya akan kalah atau menang. Perlu diingat, dalam politik satu hal penting yang harus dilakukan adalah terus memberikan harapan.
Nah...kalau nanti sudah hasil pemilu sudah keluar, baru deh langkah antisipasi yang telah disiapkan tinggal diluncurkan. Disebarkan kepada masyarakat luas. Dan wuuuus....!
Langkah antisipasi tersebut tak lain juga untuk mengkerangkeng basis massa agar tidak pindah dukungan dan semakin fanatik kepada masing-masing kubu.
Mengapa sih kok seperti itu? Jahat dong...
Ya, memang jahat. Tapi memang itu yang "harus" dilakukan.
Karena dalam demokrasi itu, massa adalah modal. Maka dari itu, jika engkau tidak berhasil menguasai 51 persen massa di Indonesia, kuasailah 49 persennya dan sebaliknya. Peganglah mereka erat-erat. Pepet terus, jangan dikasih kendor. Berhasil memegang 49 persen itu secara terus menerus akan menjadi sumber keuntungan yang juga akan mengalir terus menerus.
Tapi massa yang dapat dicengkeram oleh para elit penguasa itu adalah massa yang tidak rasional. Mereka adalah orang yang memilih berdasarkan pertimbangan (tokoh) agama, (tokoh) kesukuan, dan (tokoh) organisasi. Mereka cenderung tidak rasional.
Itulah alasan mengapa para tokoh agama, tokoh adat, tokoh daerah, tokoh organisasi, pada musim pemilu seperti sekarang didekati oleh para elit penguasa. Karena para tokoh tersebut punya kuasa dan punya massa. Dan menariknya tidak sedikit di antara para tokoh itu yang mau menjual atau mentransaksikan kuasa dan massanya kepada para elit penguasa.
Sementara, massa yang rasional tidak akan bisa diperlakukan seperti itu. Massa yang rasional akan memiliki daya tawar politik yang tinggi, atau setidaknya mereka akan meninggikan daya tawar politiknya sendiri.
Sungguh demokrasi kita saat ini membutuhkan lebih banyak massa yang rasional. Dan ini adalah tantangan yang sangat berat karena para elit penguasa yang sudah nyaman dengan massa irasional tidak akan membiarkan massanya berubah menjadi rasional. Massa yang rasional akan banyak menyusahkan. Tidak mudah diprovokasi oleh sentiman SARA dan nasionalisme. Massa yang rasional tidak gampang ditipu, dan itu merupakan kabar buruk bagi para penguasa.
Demikian, tabik.

Yogyakarta, 24 Maret 2019
Please write your comments