Kisah Inspiratif Dari Ida, Relawan Kesehatan Ambulan Terapung di NTT - Jurnal Darul Azis

Kisah Inspiratif Dari Ida, Relawan Kesehatan Ambulan Terapung di NTT

Kisah Inspiratif Dari Ida, Relawan Kesehatan Ambulan Terapung di NTT

Selain pendidikan, fasilitas kesehatan juga menjadi kebutuhan yang seharusnya diterima warga dari negara. Namun di beberapa daerah, hal tersebut begitu mahal lantaran tak ada di dekat mereka. 

Rasyidah Awaliyah Saputri, Relawan  LKC/ gambar via Youtube.com

Di situlah kami mencoba hadir, memberikan bantuan kesehatan untuk mereka yang membutuhkan.

*****

Bibir ini seperti refleks tersenyum, setiap kali melihat anak-anak dengan segala tingkah lakunya. Namaku Rasyidah Awaliyah Saputri, biasa dipanggil Ida. Aku bertugas sebagai relawan kesehatan Ambulan Terapung di  Nusa Tenggara Timur. Salah satu wilayah yang kami jangkau adalah pulau Kera di Kupang. Ambulan terapung ini memberikan layanan kesehatan gratis untuk warga di pulau yang tak memiliki fasilitas kesehatan. 
 
Ambulan Terapung/Gambar via Youtube

Di pulau kecil yang terlihat dari kota Kupang ini ternyata ada masalah kesehatan ibu dan anak yang kompleks. Pernikahan dini sudah menjadi hal biasa di pulau ini. Angka kelahiran pun terus naik, karena keluarganya tak mengenal konsep Keluarga Berencana (KB). Minimnya pengetahuan karena rendahnya pendidikan juga berakibat pada buruknya gizi anak-anak. Belum lagi soal terbatasnya penghasilan warga di sini. 

Tugasku sebagai konselor Laktasi. Selain memberikan konseling ASI, kami juga memberikan pelayanan KB dan pemeriksaan kesehatan. Semuanya gratis.

Apa yang kami lakukan semata untuk tujuan sosial. Membantu mengurangi beban warga yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan.

Kalau dilihat di peta, pulau Kera terletak di utara kota Kupang. Tapi secara administratif masuk ke dalam wilayah kabupaten Kupang. Mayoritas warganya belum memiliki KTP. Kalaupun ada yang punya, alamat tinggalnya tidak boleh ditulis ‘pulau Kera’.

Air bersih menjadi barang mahal di sini. Satu-satunya sumur airnya payau. Belum lagi kadang surut. Tak ada air sama sekali. 

Kondisi ekonomi warga juga bisa dibilang lemah. Mereka bekerja sebagai nelayan, dengan pendapatan pas-pasan.

Tak ada informasi pasti sejak kapan orang Bajo mulai tinggal di pulau ini. Dari cerita warga, pulau Kera hanya menjadi tempat singgah para nelayan ketika mencari ikan. Telah terdengar pula rencana pemerintah memindahkan mereka.

Ironis! Pulau yang jaraknya relatif dekat dengan pusat kota, tidak dengan sendirinya membuat kehidupan di pulau ini baik. Bahkan untuk sekadar dikatakan layak pun tidak bisa.

Listrik juga tak ada di pulau Kera. Untuk penerangan di saat gelap, warga hanya mengandalkan jenset yang menyala sejak jam tujuh sampai jam 12 malam. 

Bagi kami, malam hari adalah waktu untuk bersantai setelah seharian berkegiatan. Setiap kali kegiatan kami selalu dibantu para relawan dan pada trip kali ini ada 10 relawan yang membantu empat relawan dari kesehatan cuma-cuma atau LKC yang dikelola oleh Dompet Dhuafa. Mereka berasal dari beragam latar belakang. Ada yang dari bidang kesehatan, ada juga yang tidak.

Sepanjang pengalamanku bergelut di bidang kesehatan, belum pernah aku temui daerah dengan populasi anak  dan balita sebanyak di pulau Kera. Di sini, tiap keluarga minimal memiliki tiga anak. Tapi ada juga keluarga yang jumlah anaknya mencapai 12 orang.

Punya banyak anak dengan penghasilan pas-pasan, berakibat pada minimnya kualitas gizi yang diterima anak-anak. Belum lagi soal biaya berobat bila ada anak yang sakit. 

Di pulau Kera, ketiadaan fasilitas kesehatan membuat warga kesulitan. Kalaupun berobat ke kota, mereka biasanya bingung dengan prosedurnya. Karena itulah, kemudian kami menginisiasi kader kesehatan pulau Kera. 

Saat kami sedang di pulau, para kader itu pulalah yang menemani kunjungan. Biasanya ke rumah pasien yang sakit parah, hingga tidak bisa datang ke kegiatan pengobatan kami. Ada lima orang di pulau Kera yang kami tunjuk sebagai kader kesehatan. 

Bahasa memang masih menjadi kendala. Kebanyakan warga menggunakan bahasa Bajo. Hanya sebagian yang lancar berbahasa Indonesia. Bisa dibilang, kader adalah perantara antara warga pulau dengan kami; titian penghubung untuk membantu warga mengakses fasilitas kesehatan. 

Bertugas di pulau dengan begitu banyak anak-anak membuatku rindu dengan anak kandung yang kutinggal di rumah. Dan kini waktunya kami pulang.

***

Hampir dua tahun ini aku menikah dengan Jumat. Lelaki yang kini menjadi ayah dari putra kami. Kebetulan kami sama-sama bekerja di LKC. Materi soal ASI eksklusif yang kusampaikan saat konseling kuterapkan juga dalam kehidupan pribadi.

Dulu, saat baru saja lahir anakku sempat mencicip susu formula atas petunjuk suster. Kala itu aku belum sadar dari operasi dan suamiku panik lantaran anakku terus menangis. Untung besoknya ia langsung mau menyusu. 

Bagiku sebagai seorang ibu, air susu bukan sekadar untuk memberikan kebutuhan gizi anak. Tapi juga merupakan bentuk ikatan kasih sayang kepada anak yang kita cintai. 

Tiga tahun sudah aku mengabdi di LKC. Pekerjaan ini membuatku selalu diingatkan bahwa ada banyak kaum papa yang membutuhkan bantuan kita. 

Bukan cuma di pulau Kera. Di dalam kota Kupang pun ada warga yang tempat tinggalnya jauh dari fasilitas kesehatan. Salah satunya di daerah Bakunase. 

Kegiatan ini kami sebut aksi layanan sehat atau ALS. Upaya sederhana untuk memudahkan warga dalam mendapatkan layanan kesehatan. 

ALS rutin digelar sebulan sekali di beberapa kelurahan. Tiga bulan sekali kami kembali ke lokasi yang sama untuk memantau perkembangan penyakit pasien.

Meski hanya sebatas pemeriksaan dan pemberian obat-obatan standar, kami bersyukur setidaknya sedikit sumbangsih ini bisa bermanfaat untuk warga. 

Upaya kami di bidang kesehatan tak melulu soal mengobati. Tapi yang lebih penting adalah soal mencegah. Kebiasaan hidup bersih bisa menjadi awal pencegahan penyakit. Hal ini telah coba kami tanamkan kepada anak-anak pada beberapa SD di Kupang. 

Hal-hal seperti mencuci tangan dan menyikat gigi mungkin terlihat sepele. Tapi kebersihan diri adalah awal pencegahan kuman penyebab penyakit.

Kami percaya, kebiasaan baik yang diajarkan sedari kecil akan diingat hingga dewasa. 

Keinginan berbagi adalah nafas dari seluruh kegiatan di LKC. Bagiku ini adalah cara yang diberikan Tuhan untukku mengabdi pada masyarakat dari anak-anak hingga orang tua. Semoga apa yang kami lakukan, manfaatnya bisa terus dirasakan oleh banyak orang demi kesehatan, demi kemanusiaan. 


Catatan : kisah ini merupakan transkripsi narasi dari video dokumenter Lentera Indonesia Net

  



Please write your comments