Seiring Tarikan Napas - Jurnal Darul Azis

Seiring Tarikan Napas

Seiring Tarikan Napas



Pagi tadi salah seorang murid kesayangan guru saya di padepokan, Bowo, terlihat murung. Mukanya gelap. Tenaganya terlihat loyo. Saat kami latihan bersama di halaman, berkali-kali ia melakukan kesalahan. Mungkin karena konsentrasinya hancur.

Melihat itu, guru kami segera menghentikan latihan meski baru berjalan seperdelapan dari yang seharusnya. Kami kemudian disuruh duduk melingkar, saling menggenggam tangan teman di kanan-kiri kami, memejamkan mata, serta bernapas seperti biasa dalam kesunyian pagi.

Sekitar 20 tarikan napas kemudian, rintik hujan mulai turun. Lama-lama semakin deras seiring dengan waktu yang terus berjalan. Saya mulai gelisah. Teman di samping kiri saya, Joko, juga demikian. Ia mengkhawatirkan bajunya yang cuma satu. Teman di sisi kanan saya, Amin tak kalah gelisahnya. Hujan selalu melemparkan ingatannya pada sosok ayahnya yang tewas tersambar petir.

Saya kemudian melirik ke arah Bowo, yang duduk di samping guru kami. Ia pun tampak gusar, meski tangannya digenggam erat oleh sang guru. Saya tahu, Bowo paling takut dengan hujan. Entah karena apa.

Pakaian kami mulai basah. Barangkali kami sudah kehujanan selama 150 tarikan napas, sementara hujan tak kunjung memberikan tana akan segeramereda, sementara guru kami belum memberikan perintah apa pun.

Untuk menghilangkan kegelisahan, saya pun kemudian menyibukkan diri dengan hitungan tarikan napas, sambil berusaha menikmati guyuran air hujan dan terus memelihara kekuatan genggaman tangan.

Tepat pada tarikan napas ke-25 hujan mulai mereda dan benar-benar reda saat tarikan napas saya menyentuh angka 35. Disusul oleh intruksi guru kami agar kami melanjutkan latihan.

Saat latihan, saya melihat perubahan besar pada diri Bowo. Ia bagai mendapatkan wajah, cahaya, perasaan, dan daya hidup yang baru.

___

Yogya, 24 November 2018
Please write your comments