Berjudi Dengan Isi Tengki, Hidup Menyerempet Bahaya - Jurnal Darul Azis

Berjudi Dengan Isi Tengki, Hidup Menyerempet Bahaya

Berjudi Dengan Isi Tengki, Hidup Menyerempet Bahaya




Saya tipe orang yang malas sekali dalam membeli bensin. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Kadang karena beranggapan bensin di tengki masih cukup. Kadang karena males ngantre. Kadang ya karena benar-benar malas saja, bahkan untuk sekadar membuka jok dan melihat isi tengki. 

Jadilah kemudian ketika pergi ke suatu tempat, saya hanya bermodal keyakinan dan perkiraan. Dan itu pula yang sering membuat diri waswas dengan isi bensin di tengki motor. 

Saat-saat seperti itu saya bagai tengah berjudi dengan isi tengki kuda besi saya. Saya juga bagai hidup dalam bahaya, atau hidup menyerempet bahaya kalau menurut istilahnya Bung Karno, yakni mendorong motor jika sewaktu-waktu bensin di tengki habis, meski di Jogja itu bukan suatu masalah karena pasti akan ada orang yang menawarkan bantuan. Haha

(Pada suatu pagi, saya pernah bereksperimen mendorong motor di jalan. Baru beberapa langkah saja, eh sudah ada yang menanyai kenapa dan kemudian menawari saya bantuan.)

Entah mengapa saya malah menikmati kondisi seperti itu. Selalu waswas, hidup dalam bahaya, adalah sesuatu yang menyenangkan bagi saya.

**

Semalam, saya pulang dari Malam Mingguan sekitar pukul 01 dinihari.

Saya pulang dengan isi bensin yang entah dan tak mampu saya perkirakan lagi karena terakhir saya mengisi bahan bakar 4 hari yang lalu, 10 ribu. 

Mulanya saya berencana akan mengisi bensin di SPBU 24 Jam langganan saya. Namun entah kenapa, tadi malam kok ya tutup. Sementara saya yakin kalau bensin di tengki motor saya tidak akan cukup untuk mengantarkan saya sampai rumah. 

Untunglah, di botol minumam saya masih terisi air. Jadi jika nanti benar-benar kehabisan bensin, saya masih punya air di botol, untuk diminum sebelum dan di sela-sela mendorong motor.  

Greng..greng..greng..greng..

Saya tetap melaju pelan sambil terus deg-degan. Jalanan sudah sepi. Warung-warung sudah banyak yang tutup. Kios bensin yang biasa saya lihat juga sudah pada tutup. Ada beberapa yang masih buka, namun bensinnya sudah habis. 

Saat itu saya berpikir, mungkin memang malam ini saya harus berolah raga. Mengawali pekan dengan mendorong motor di malam buta, sungguh bukan suatu aktivitas yang romatik saya kira. Apalagi saya sendiri. Tapi ya itu adalah risiko dari sebuah perjudian, bukan? 😂

Motor terus melaju. Pelaan sekali. Saya memang jarang sekali ngebut. 

Di jalan, saya dicegat oleh beberapa lampu merah yang menyala tak kurang dari 60 detik. Saya semakin waswas. 

Bismillah...! Maju terus. Saat2 seperti itu, entah kenapa pula, saya jadi semakin relijiyes. 

Sebagai informasi, jarak yang saya tempuh tak kurang dari 7 km. 

Jantung saya berdegub kian kencang tatkala suara motor saya terdengar tersendat-sendat. Saya terus menarik gas. Ah rupanya baik-baik saja. Tapi saya tetap tidak merasa aman. 

Segasan demi segasan, jarak dengan rumah semakin dekat. Hanya tinggal 1 km lagi. 

Dan allahu ya karim!!! 

Saya menemukan kios yang masih buka dan menjual bensin eceran. 

Saya berpikir cepat. 

Besok aja ah. Kayaknya masih cukup. 

Demikianlah pikir saya kemudian. 

Setelah mengambil keputusan itu, saya kembali deg-degan. Kembali ragu apakah isi bensin di tengki saya masih cukup atau tidak.

"Gak papalah ndorong motor kalau nggak jauh. Hihi.." Saya kemudian menghibur diri, walaupun saya kemudian juga sadar itu tetaplah bukan suatu hal yang menyenangkan. 

Jarak ke rumah sudah semakin dekat. Saya tetap berjalan pelan. Tetap waswas kalau-kalau tiba-tiba motor mati. Jalanan sudah sepi dan saya tidak mau dicurigai orang sebagai pencuri motor. 

Saya mulai masuk ke gang rumah. Saya masih waswas. Saya melihat jam tangan. Sudah pukul 1.30. 

Sebentar lagi sampai. 

Saya terus menarik gas motor. Kali ini dengan penuh keyakinan dan rasa percaya diri yang tinggi. 

Dan..



Ya...saya sampai di rumah dengan tanpa mendorong motor. 😄

Alhamdulillah Gusti. Saya menang lagi🤣
Please write your comments